Rabu, 29 November 2017

Tokoh Pendidikan Perempuan Abad 18 Maria Montessori



Tokoh Pendidikan Perempuan Abad 18 Maria Montessori
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Tokoh Pendidikan Perempuan Abad 18 Maria Montessori

Maria Montessori adalah seorang perempuan Italia yang lahir pada 31 Agustus 1870. Pada masa ketika kebanyakan perempuan berkeinginan menjadi guru, Maria Montessori justru memilih mendalami ilmu matematika dan teknik mesin. Ayahnya mendukung keinginan tersebut. Setelah lulus, ia memilih mempelajari bidang kedokteran. Kerja kerasnya pun membuahkan hasil. Ia menjadi perempuan dokter pertama di Italia.
Maria Montessori kemudian bekerja di sebuah rumah sakit untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Setiap hari sesudah sarapan, anak-anak dibawa ke aula besar yang kosong. Anak-anak tersebut berjalan berkeliling aula. Maria Montessori memperhatikan anak-anak tersebut berjalan sambil merogoh kantong celana seperti sedang meremas-remas sesuatu. Setelah diselidiki, ternyata mereka menyimpan remah-remah roti sisa sarapan. Maria Montessori kemudian menyimpulkan bahwa hal tersebut dilakukan dalam upaya alami mereka untuk menstimulasi indera peraba.
Hasil observasi tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi utama metode Montessori, yakni tentang menstimulasi seluruh indera anak. Seluruh indera, tidak hanya audio dan visual seperti yang selama ini fokus diajarkan di sekolah-sekolah konvensional.
Beberapa waktu kemudian, pemerintah meminta Maria Montessori untuk menangani sebuah wilayah. Wilayah tersebut merupakan area pabrik. Di sekeliling pabrik terdapat perumahan yang mayoritas ditinggali oleh para buruh pabrik. Timbul permasalahan ketika orangtua sibuk bekerja, anak-anak mereka kemudian tumbuh menjadi liar dan berpotensi menimbulkan kekacauan di lingkungan.
Menangani hal tersebut, Maria Motessori kemudian turun tangan mengurus sebuah pusat pendidikan anak bernama Cassa de Bambini, yang berarti “rumah anak-anak”. Di Cassa de Bambini inilah metode Montessori lahir dan akhirnya berkembang berdasarkan observasi Maria Montessori terhadap perilaku dari kebutuhan anak.
Kondisi anak-anak di Cassa de Bambini saat itu sangat memprihatinkan. Berjumlah sekitar lima puluhan anak dengan rentang usia beragam dan didampingi oleh satu orang pendamping yang belum terlatih menangani serta mengasuh anak.
Hal pertama yang dilakukan Maria Montessori untuk menangani hal tersebut ialah dengan mengarahkan anak-anak yang berusia lebih besar untuk terlibat dalam kegiatan sehari-hari. Mereka diarahkan untuk ikut membersihkan lantai, merawat tanaman, menyiapkan makanan, memakai pakaian sendiri, dan hal keseharian lainnya. Dari situ kemudian lahir cikal bakal pemahaman tentang pentingnya area praktik kehidupan sehari-hari yang melibatkan anak secara aktif dengan material konkret yang dapat mereka eksplorasi dengan seluruh indera. Anak-anak membutuhkan kegiatan yang bermakna, yang tidak hanya untuk menyalurkan energi mereka yang meruah, tetapi juga agar mereka merasa bermanfaat dan berharga.
Mengajak anak memahami perannya dalam lingkungan terdengar sangat muluk. Namun, Maria Montessori membuktikan bahwa hal tersebut membantu anak menjadi pribadi yang tenang dan dengan sendirinya menjadi lebih teratur. Observasinya terhadap kebutuhan anak terus bergulir dan menghasilkan kegiatan yang mengubah Cassa de Bambini menjadi rumah tinggal yang menyenangkan. Di tempat tersebut anak-anak gembira belajar dan bertanggung jawab.
Pengalaman dan observasinya di Cassa de Bambini kemudian menjadi tonggak terbentuknya filosofi metode Montessori. Sejak 1909, Maria Montessori mulai menyebarluaskan metode Montessori dengan melatih para guru di berbagai negara. Ia pun terus aktif menyelenggarakan berbagai konferensi Montessori di berbagai penjuru dunia. Atas upaya dan kontibusinya dalam bidang pembangunan manusia, 2 tahun sebelum meninggal dunia, yaitu pada tahun 1950, Maria Montessori dinominasikan sebagai penerima Nobel Perdamaian.

1 komentar: